Posted in Kesehatan, Kesehatan Masyarakat

Pendekatan Ecohealth pada Malaria

Malaria di Indonesia

Penyebab malaria adalah parasit plasmodium. Di Indonesia terdapat beberapa jenis yaitu plasmodium falsifarum, plasmodium vivax, plasmodium malariae, dan plasmodium ovale.

Vektor penyakit malaria adalah nyamuk Anopheles. Nyamuk berkembang biak hampir di berbagai jenis genangan air. Jika ada pasien yang tidak diobati dengan tuntas, ketika dihisap darahnya oleh nyamuk akan memungkinkan nyamuk tersebut untuk menularkan malaria ke orang lain. Ada beberapa spesies nyamuk Anopheles yang kontak dengan manusia, yaitu: A.sundaicus, A. vagus, A. tessellatus, A. aconitus, A. subpictus, A. annularis, A. kochi, A. minimus, A. barbirostris, A. maculatus, dan lain-lain.

Kelompok yang berisiko tinggi terserang malaria yaitu bayi, anak balita, ibu hamil, dan lansia. Tingkat kesakitan dan kematian pada kelompok ini lebih tinggi daripada keseluruhan populasi. Selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja.

Malaria adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Saat ini malaria merupakan penyakit endemis di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di daerah pedesaan, pesisir, dan terpencil. Yang menjadi permasalahan adalah tingkat sosio-ekonomi yang rendah dapat menyebabkan penderita tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Kurangnya pemerataan infrastruktur dan tenaga kesehatan juga membuat masih tingginya kasus malaria yang tidak terkonfirmasi.

buku terbuka halaman

Pendekatan Ecohealth pada Malaria

 

Systems thinking:

Mengenali hubungan antara sistem sosio-ekonomi dan ekosistem pada penyakit malaria. Melihat penyakit malaria dari sudut pandang sosial, ekonomi, kebersihan lingkungan, dan akses kesehatan. Malaria harus dipikirkan sebagai penyakit yang harus dihadapi bersama oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya oleh kalangan tertentu.

Transdisciplinarity:

Metodologi dan teori epidemiologi, tata ruang, antropologi, entomologi, parasitologi, farmasi, dan lain sebagainya diintegrasikan dalam merumuskan strategi yang akan dipilih. Kolaborasi antara petugas kesehatan, peneliti, pemuka agama, pemerintah dan masyarakat mutlak diperlukan, sehingga perlu sering diadakan rapat koordinasi.

Participation:

Rancangan strategi harus mengakar pada masyarakat supaya dapat menghasilkan inovasi dan kerja sama yang luas. Partisipasi masyarakat dapat berupa berbagai aktivitas, terutama bila ada tradisi lokal yang diberi inovasi sehingga masyarakat tidak harus melakukan suatu perubahan yang ekstrim dalam kehidupan keseharian mereka. Petugas kesehatan dan para pemimpin di masyarakat (pemuka agama dan pemerintah) memberikan penyuluhan yang mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat sehingga pemahaman mereka meningkat dan mau ikut serta menanggulangi malaria. Masyarakat diharapkan mau segera memeriksakan diri ke sarana kesehatan bila memiliki gejala malaria, tanpa harus menunggu penyakitnya menjadi parah.

Gender and Social Equity:

Kebersihan lingkungan ditangani secara bersama oleh laki-laki dan perempuan dalam bentuk kerja bakti membersihkan tempat perindukan nyamuk. Semua orang harus mendapat kesamaan akses terhadap sarana kesehatan, tanpa dibedakan berdasarkan jenis kelamin maupun tingkat sosio-ekonomi. Jika penanganan malaria tidak bisa digratiskan maka sebaiknya diberikan subsidi oleh pemerintah atau subsidi silang dari masyarakat.

Sustainability:

Masyarakat harus bertanggung jawab untuk menjaga agar tempat perindukan nyamuk yang sudah dibersihkan tidak muncul lagi, harus ada pengecekan berkala untuk memutus daur kehidupan nyamuk sebagai vektor malaria. Pemerintah melalui dinas kesehatan harus menjaga pasokan reagen untuk pemeriksaan, obat malaria, dan petugas kesehatan yang memadai. Masyarakat yang sudah paham dapat menjadi narasumber untuk mengajar masyarakat lain yang belum memahami malaria. Untuk masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan kelambu saat tidur harus didukung agar terus menggunakannya.

Knowledge-to-Action:

Bila ingin meneliti atau mencoba metode baru, maka juga harus didokumentasikan dengan baik agar jika berhasil dapat diterapkan di tempat lain dalam skala yang lebih besar. Hasil penelitian terbaru yang diterapkan di masyarakat harus logis dan realistis, serta perlu disesuaikan dengan kondisi setempat agar dapat mencapai tujuan jangka panjang yaitu Indonesia bebas malaria.

Penulis:

Being a PHD

One thought on “Pendekatan Ecohealth pada Malaria

Silahkan berkomentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s